JANGAN MALU UNTUK MENIRU
Politikus meniru kampanye Barrack Obama: salah. Local enterpreneur meniru YouTube: salah. Semua yang tidak orisinil salah. Padahal Google juga tidak orisinal, tapi kita tak pernah bilang dia salah. Lain halnya jika Microsoft membuat produk baru. OMG, label copy cat pasti akan segera dilekatkan di jidat mereka.
Apa yang salah dengan meniru. Mungkin yang salah adalah cara meniru dan bukan pilihan meniru. Meniru adalah langkah pertama dalam proses belajar. Seperti halnya bayi yang meniru orang tua. Pada akhirnya, saat dewasa, mereka akan menentukan untuk kembali meniru orang tua atau belajar dari sejarah dan kemudian membuat sejarah tersendiri. Akan tetapi selalu saja, dan selalu berulang, dimulai dari proses meniru.
As a side note, this is one draft I’ve never managed to complete. It didn’t reside long in my docs. I’m either tired or furious today. I’m feeling like bloggin something so I guess I’m gotta use this stored draft to feed my whatever. My furiosity negates the positive point I want to deliver here, but well, you can dig it yourself if you really want to. Full is empty, empty is full.
Era ini menurut Burke Hedges adalah era Copycat. Era saling tiru meniru praktek bisnis di bidang apa saja, meskipun di luar industri yang digeluti. Ide pembuatan deodorant roll on konon kabarnya idenya berasal dari konsep ballpoint. Kedai roti Bread Talk yang begitu ramai itu saya yakin juga mengadopsi dari bisnis lain. Konsep dapur terbuka dan fresh from the oven itu mirip dengan konsep restoran sea food. Konsep fresh from the oven ini kemudian juga ditiru oleh Zara, perusahaan fashion dari Spanyol yang lagi naik daun saat ini. Bayangkan, sebuah model baru hanya membutuhkan waktu 10 hari mulai dari disain hingga sampai ke cabang-cabangnya di seluruh dunia. Koleksi busananya selalu berganti seminggu sekali dan itu dikirim dari pusatnya di Spanyol.
Meniru merupakan salah satu fitrah yang melekat pada diri manusia. Kesadaran akan adanya sifat dasar ini sangat penting, dan yang lebih penting lagi memahami dan menghayati bahwa sifat-sifat itu disamping berpotensi menuju ke arah positif (takwa) juga berpotensi menuju ke arah negatif (kefasikan) sebagaimana firman Allah dalam surat Asy-Syams (91) ayat 7-10; dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.
Meniru melekat pada diri manusia, sejak dia masih bayi hingga menjadi kaki-nini. Anehnya, tidak setiap orang menyadari kekuatan yang sangat dahsyat dari sifat ini yang sangat mewarnai pola hidupnya sepanjang hayat. Bahkan para remaja pun, yang sangat didominasi oleh sifat ini, sering tidak menyadari bahwa pola hidup dan perilaku yang mereka tunjukkan selama ini adalah buah dari sifat meniru
Segala kejadian yang dialami atau yang menimpa manusia dalam kehidupan ini kalau direnungkan semuanya tak lepas dari adanya kontribusi sifat meniru, misalnya kerusakan alam, terjadinya bencana antara lain karena orang terbawa oleh sifat meniru yang tak terkendali sehingga terjadi penebangan pohon rame-rame dan seterusnya. Yang paling cerdik memanfaatkan sifat meniru adalah dunia usaha. Lihat saja mass media, koran, radio, dan lebih-lebih televisi, hampir 100 persen isinya adalah mengeksploitasi sifat meniru manusia. Untuk melariskan dagangannya, dipasanglah tokoh-tokoh terkenal, seperti artis, agar dari ujung rambut sampai ujung kaki kita memakai produk perusahaan tersebut.
Walhasil, disadari atau tidak, hidup kita sangat diwarnai oleh sifat meniru, bahkan prosentasenya bisa lebih dari 90 persen. Yang orisinil berpikir itu sangat sedikit. Aspek positif sifat meniru antara lain : meniru adalah asas pendidikan, maka metode yang paling efektif dalam pendidikan adalah keteladanan dan sekaligus faktor utama dalam prinsip kepemimpinan. Tepatlah ungkapan Tokoh Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara; Ing Ngarso sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani. Selain itu, meniru juga berguna untuk keselamatan manusia. Untuk tujuan yang lebih besar, yaitu keselamatan, bolehlah kita menjadi ‘bunglon’ terhadap hal-hal yang tidak prinsip. Seperti ketika suasana kampanye tahun 1997, supaya tidak diserang oleh massa kampanye maka ketika melintas atau berpapasan dengan mereka, kita pakai baju dan bendera mereka. Meniru dapat juga meningkatkan Persatuan/ kesatuan/patriotisme, Kebahagiaan dan kerukunan rumah tangga, serta Efisiensi kehidupan. Ini hikmah terbesar dari meniru. Hidup jadi tidak terlalu menghabiskan energi dikarenakan harus berpikir, menimbang-nimbang setiap gerak aktifitas kita.
sumber; meniru dari berbagai sumber