Arsip untuk sampah kategori

Selamatkan lingkungan anda dari sampah

Posted in sampah on Maret 15, 2008 by kopral cepot
Written by Irfan Arief
Wednesday, 23 May 2007
 Selain populasi penduduk yang terus meningkat tahun demi tahun, gaya hidup masyarakat juga mendukung pertumbuhan sampah. Jika budaya ‘membuang sampah pada tempatnya’ belum dimiliki masyarakat, bisa dibayangkan bagaimana keadaan lingkungan tempat mereka tinggal.

Sebut saja kota Jakarta. Berdasarkan data Bapelda tahun 2000, pada tahun 1985, ibukota negara ini menghasilkan sampah sebesar 18.500 m3 tiap harinya. Populasi yang terus bertambah berbanding lurus dengan peningkatan jumlah sampah. Maka, tahun 2000 sampah di Jakartapun meningkat menjadi 25.700 m3 per hari. Dalam setahun, jika diperhitungkan, volume sampah tahun 2000 mencapai 170 kali besar Candi Borobudur (55.000 m3). Belum lagi jumlah sampah dari kota besar lain seperti Medan dan Bandung. Jika tidak ditangani dengan baik, bukan tak mungkin Indonesia menjadi negeri sejuta sampah.

Sebagian besar sampah yang dihasilkan di Indonesia adalah sampah basah, sekitar 60%-70% dari total volume sampah. Sampah basah disebut juga sebagai sampah organik yang bisa terdegradasi secara alami. Sebaliknya, sampah kering atau anorganik tidak bisa mengalami proses degradasi alami. Jenis sampah ini harus benar-benar dikelola dengan baik agar tidak menimbulkan polusi lingkungan. Daur ulang, salah satu cara menangani sampah anorganik.

Pengelola Sampah
Pengelola sampah harus dibarengi dengan pengelolaan gaya hidup masyarakat. Jika masyarakat masih tak peduli dengan kebersihan lingkungannya, pengelolaan sampah belum bisa berjalan. Sampah bisa dikelola dengan cara penumpukan, pengoplosan, pembakaran, sanitary landfill, dan daur ulang.

Metode penumpukan bersifat murah dan sederhana. Namun, dapat menimbulkan masalah lingkungan lain seperti pencemaran dan terjangkitnya penyakit. Karena metode ini tidak memusnahkan sampah secara langsung. Melainkan membiarkannya terdegradasi secara alami. Pengkomposan juga melalui proses sederhana, tapi cara ini dapat menghasilkan pupuk yang bernilai ekonomi.

Untuk melakukan pembakaran, sampah benar-benar yang bisa terbakar habis. Akan tetapi, metode ini juga menimbulkan dampak lingkungannya, harus memilih tempat jauh dari pemukiman. Sedangkan sanitary landfill hampir sama dengan penumpukkan. Hanya saja tanah berlubang yang sudah penuh sampah ditutup kembali. Metode ini selain membutuhkan areal cukup luas juga menimbulkan masalah lingkungan lain.

Cara terakhir, yaitu daur ulang biasa dilakukan terhadap sampah anorganik. Daur ulang terdiri dari kegiatan memilah, mengumpulkan, memproses sampah, distribusi, dan pembuatan produk bekas pakai. Hambatan terbesar adalah tak semua produk dirancang untuk bisa didaur ulang jika sudah tak terpakai.

Pengelolaan sampah ini bisa dilakukan dari lingkungan terkecil, yaitu rumah tangga. Sebaiknya, tiap rumah tangga memilah terlebih dulu sampah-sampah yang akan dibuang. Dipisahkan antara sampah organik dan anorganik sehingga tiap jenis bisa dikelola secara optimal. Sampah organik dapat mengkontaminasi dan mengurangi nilai dari material yang mungkin bisa didaur ulang.

Pengelolaan sampah memang harus ’dibungkus’ dalam satu program yang benar-benar matang. Program tersebut harus disesuaikan dengan kondisi fisik, ekonomi, budaya, dan hukum. Hingga tiap kota maupun negara akan memiliki pola program yang berbeda-beda. Seperti Zabbaleen di Kairo, Mesir, telah membuat sistem pengumpulan dan daur ulang sampah. Sistem tersebut mampu memanfaatkan 85% sampah yang terkumpul dengan mempekerjakan 40 ribu orang.

Mengelola sampah dengan baik, berarti kita telah melakukan kegiatan positif lainnya. Dibalik sampah yang kotor dan bau, tersimpan beragam manfaat jika bisa dikelola dengan tepat dan benar. Misalnya saja, membantu dalam penghematan sumber daya alam, penghematan energi, menghemat lahan Tempat Pembuangan Sampah (TPA), dan tentunya membuat lingkungan bersih, sehat, serta nyaman.

Menciptakan lingkungan bersih dan sehat, bisa dimulai dari diri kita sendiri. Budaya’membuang sampah pada tempatnya’ harus ditanamkan sejak awal. Tak bisa karena tak biasa. Maka, biasakanlah untuk tertib membuang sampah. Di samping itu, cobalah untuk memulai prinsip-prinsip berikut ini dalam kehidupan sehari-hari.

  • Reduce (mengurangi). Kurangi konsumsi material yang menimbulkan sampah. Hindari pula membeli barang dengan kemasan styrofoam.
  • Reuse (memakai kembali). Usahakan untuk mengkonsumsi barang yang bisa dipakai dalam jangka panjang. Hindari pemakaian barang sekali pakai (disposable).
  • Recycle (mendaur ulang). Pilah sampah rumah tangga Anda. Sisihkan sampah yang masih bisa didaur ulang sehingga dapat dimanfaatkan lagi.
  • Replace (mengganti). Mulailah biasakan diri Anda untuk memakai barang-barang yang ramah lingkungan. Teliti sebelum menggunakan barang. (Ota – BIDI, Agustus 2006, hal 20-21)

Sampah, tanggung jawab siapa ?

Posted in sampah on Maret 15, 2008 by kopral cepot

UU No. 23/1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup menyebutkan : “Setiap manusia mempunyai hak untuk berpartisipasi dalam pengelolaan lingkungan hidup sesuai dengan hak dan peraturan perundang-undangan yang berlaku”.

Selanjutnya:”Setiap manusia berkewajiban memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup serta mencegah dan menanggulangi pencemaran dan perusakan lingkungan hidup.”

Sebagai wakil Allah SWT di bumi, kita mendapat titipan memelihara apa yang ada di bumi. Kita diberi Allah SWT makanan, pakaian, rumah, semuanya dari hasil bumi. Lalu apakah pantas kita kembalikan sebagai sampah dan racun yang merusak bumi?

Data dari berbagai Negara menunjukkan bahwa yang lebih banyak menjadi korban pencemaran lingkungan adalah perempuan dan anak2. Berbagai bahan kimia rumah tangga lebih banyak dihirup perempuan dan anak2 yang berada di rumah. Sedangkan gas beracun yang terkumpul pada ketinggian kurang dari 1 meter, lebih banyak dihirup anak-anak. Tidak terpeliharanya bumi, mengakibatkan jumlah penderita kanker, asma dan anak2 autis setiap tahun makin meningkat.

Karena kurangnya kesempatan mendapat informasi atau penyuluhan tentang pencemaran dan perusakan lingkungan, peranan perempuan masih belum telihat nyata. Perempuan bisa dan wajib berperan dalam melestarikan lingkungan hidup. Mulailah dari diri kita sendiri, lalu menularkan kepada keluarga dan lingkungan terdekat kita. Merubah pola hidup tidak mudah, akan tetapi harus kita mulai dari sekarang. Tentu kita tidak ingin anak-cucu kita beberapa tahun lagi menjadi generasi yang fisiknya lemah, intelegensianya rendah, karena menghirup udara tercemar atau makan makanan tercemar.
Anak-anak sejak usia dini perlu mendapat pendidikan lingkungan, agar memiliki pola hidup yang berwawasan lingkungan. Istilah sekarang adalah pola hidup hijau.

Pola hidup hijau adalah perilaku yang menganut kaidah 4R yaitu : Reduce ( mengurangi pemakaian), Reuse ( menggunakan kembali ), Recycle ( mendaur ulang ) dan Replant ( menanam kembali ).

Di rumah tangga, banyak kegiatan perempuan yang menghasilkan limbah. Setiap belanja, kita membawa pulang tas-tas “kresek”. Isinya pelbagai barang belanjaan dalam kemasan plastic atau kaleng. Ada makanan, detergen, pembersih, pewangi, setelah habis isinya menjadi sampah, yang disebut sampah anorganik.

Di dapur potongan sayuran, kulit buah, sisa makanan, adalah sampah organic rumah tangga sehari-hari yang selalu ada. Kalau tidak segera ditangani akan membusuk, menimbulkan bau dan mengundang lalat, semut, kecoa, tikus, kucing dll. Di halaman, daun-daun yang luruh, potongan tanaman, adalah sampah organic juga.

Komposisi sampah rumah tangga, yang terbanyak adalah sampah organic (60-70%), sampah non-organik yang masih dapat didaur ulang 20%. Sisanya sekitar 10% adalah sampah non-organik yang tidak dapat didaur ulang ( misalnya pampers, plastic Styrofoam) dan bahan berbahaya ( batere bekas dll).

Mengapa kita tidak merubah kebiasaan ‘membuang’ menjadi ‘mengelola’?

(Sumber : Hasanpoerbo.blogspot.com)

Semen dari Sampah

Posted in sampah on Maret 15, 2008 by kopral cepot

epang, sebuah negeri penuh inovasi. Mungkin sebutan itu sesuai dengan bagaimana jepang menangani masalah sampah. Setelah berhasil membuat sebuah airport berkelas internasional di Kobe yang dibuat diatas lapisan sampah, lalu menerapkan pembuatan pupuk dari sampah di berbagai hotel di jepang, kini jepang telah berhasil mengubah sampah menjadi produk semen yang kemudian dinamakan dengan ekosemen.

Ekosemen

Diawali penelitian di tahun 1992, dengan dibiayai oleh Development Bank of Japan, para peneliti Jepang telah meneliti kemungkinan abu hasil pembakaran sampah, endapan air kotor dijadikan sebagai bahan semen. Dari hasil penelitian tersebut diketahui bahwa abu hasil pembakaran sampah mengandung unsur yg sama dg bahan dasar semen pada umumnya. Pada tahun 1998, setelah melalui proses uji kelayakan akhirnya pabrik pertama didunia yang mengubah sampah menjadi semen didirikan di Chiba. Pabrik tersebut mampu menghasilkan ekosemen 110.000 ton per tahunnya. Sedangkan sampah yang diubah menjadi abu yang kemudian diolah menjadi semen mencapai 62.000 ton per tahun, endapan air kotor dan residu pembakaran yang diolah mencapai 28.000 ton per tahun. Hingga saat ini sudah dua pabrik di Jepang yang memproduksi ekosemen.

Gambar 1. Simulasi pembuatan eko semen dari limbah rumah tangga

Pembuatan ekosemen

Penduduk jepang membuang sampah baik organik maupun anorganik, sekitar 50 juta ton/tahun. Dari 50 ton per tahun tersebut yang dibakar menjadi abu sekitar 37 ton per tahun. Sedangkan abu yang dihasilkan mencapai 6 ton/tahunnya. Dari abu inilah yang kemudian dijadikan sebagai bahan dari pembuatan ekosemen. Abu ini dan endapan air kotor mengandung senyawa-senyawa dalam pembentukan semen biasa. Yaitu, senyawa-senyawa oksida seperti CaO, SiO2, Al2O3, dan Fe2O3. Oleh karena itu, abu ini bisa berfungsi sebagai pengganti clay yang digunakan pada pembuatan semen biasa.

Namun CaO yang terkandung pada abu hasil pembakaran sampah dinilai masih belum mencukupi, sehingga limestone (batu kapur) sebagai sumber CaO masih dibutuhkan sekitar 52 persen dari keseluruhan. Sedangkan pada semen biasa, limestone yg dibutuhkan mencapai 78 persen dari keseluruhan.

Proses selanjutnya adalah abu hasil pembakaran sampah (39 persen), limestone (52 persen), endapan air kotor (8 persen) dan bahan lainnya dimasukkan ke dalam rotary klin untuk kemudian dibakar. Untuk mencegah terbentuknya dioksin, pada proses pembakaran di rotary klin, dilakukan pada 1400 derajat celcius lebih dimana pada suhu tersebut dioksin terurai secara aman.

Gambar 2. Rotary klin (Sumber : www.ichiharaeco.co.jp)

Kemudian gas hasil pembakaran pada rotary klin didinginkan secara cepat untuk mencegah proses pembentukan dioksin ulang. Sehingga hasil gas buangan tidaklah berbahaya bagi manusia. Sedangkan pada hasil pembakaran yang masih mengandung senyawa logam dipisahkan, untuk kemudian dapat dipergunakan untuk kebutuhan lain.
Hasil akhir dari proses ini adalah ekosemen.

Pengaruh plastik vinil

Plastik vinil yang terdapat dalam sampah pada proses pembakaran akan mengakibat kekuatan konkrit ekosemen akan berkurang. Hal ini diakibatkan oleh adanya gas Cl2 hasil peruraian plastik vinil yang dapat mempengaruhi kekuatan konkrit ekosemen.

Kualitas ekosemen

Berdasarkan hasil pengujian JSA (Japan Standar Association) dinyatakan bahwa ekosemen mempunyai kualitas yang sama baiknya dengan semen biasa. Sehingga, hingga saat ini penggunaan ekosemen sudah digunakan dalam pembangunan jembatan, jalan, rumah, dan bangunan lainnya di Jepang.

Gambar 3. Struktur ekosemen (Sumber : www.ichiharaeco.co.jp)

Dengan adanya pengubahan sampah menjadi semen, menambah alternatif pengolahan sampah menjadi barang bermanfaat bagi manusia yang telah membuangnya. Selain itu dengan adanya alternatif pengolahan sampah menjadi semen, biaya pengolahan sampah di Jepang menjadi lebih murah. Bila sebelumnya 40.000 yen per ton (pengolahan sampah konvensional) menjadi 39.000 yen per ton (pengolahan sampah hingga menjadi semen).

Peluang di Indonesia

Indonesia belum bisa lepas dari masalah sampah. Mulai dari penolakan warga masyarakat sekitar TPA akibat kepulan asap dan bau yang ditimbulan pengolahan sampah saat ini hingga kejadian yang tidak pernah dilupakan, tragedi leuwih gajah yang merenggut 24 nyawa tak bersalah.

Sudah banyak upaya yang dilakukan, termasuk dengan mengubahnya menjadi sumber energi (metan) namun akibat kurangnya prospek dari segi ekonomi, akhirnya perkembangannya masih jalan ditempat.

Berhasilnya Jepang, mengolah sampah menjadi semen, tentu menjadi peluang sangat besar untuk dikembangkan di Indonesia. Di Jakarta saja sampah yang dihasilkan oleh warganya mencapai 6000 ton lebih per hari. Selain itu secara prinsip, pembuatan ekosemen hampir sama dengan pembuatan semen biasa, sehingga jika bisa dilakukan kerja sama dengan pihak industri semen, maka akan jadi kerjasama yang menguntungkan baik pihak pemerintah maupun pihak industri. Dari pihak pemerintah penanganan sampah bisa sedikit teratasi dan dari pihak industri mampu mengurangi penggunaan limestone (26 persen).

Namun yang terpenting adalah kemauan pemerintah, khususnya pemerintah kota/daerah, untuk mengelola sampah dengan baik dan memulai untuk mencoba memisahkan sampah antara sampah organik, anorganik, botol dan kaleng menjadi kebudayaan bangsa Indonesia secara luas. Sehingga peluang pemanfaatan sampah menjadi semen atau produk yang lain bisa oleh pihak industri bisa lebih ekonomis.

Sumber (Dedy Eka Priyanto, Tokyo National College of Technology. Email: dedy_monbusho05@yahoo.co.jp)

Apa itu Sampah ?

Posted in sampah on Maret 15, 2008 by kopral cepot

::Pengertian Sampah

Sampah adalah suatu bahan yang terbuang atau dibuang dari sumber hasil aktifitas manusia maupun alam yang belum memiliki nilai ekonomis.

:: Sumber-sumber sampah

1. Rumah Tangga
2. Pertanian
3. Perkantoran
4. Perusahaan
5. Rumah Sakit
6. Pasar dll.

::Secara garis besar, sampah dibedakan menjadi tiga jenis yaitu :

1. Sampah Anorganik/kering

Contoh : logam, besi, kaleng, plastik, karet, botol, dll yang tidak dapat mengalami pembususkan secara alami.

2. Sampah organik/basah
Contoh : Sampah dapur, sampah restoran, sisa sayuran, rempah-rempah atau sisa buah dll yang dapat mengalami pembusukan secara alami.

3. Sampah berbahaya
contoh : Baterei, botol racun nyamuk, jarum suntik bekas dll

:: Permasalahan Sampah::

Secara umum pembuangan sampah yang tidak memenuhi syarat kesehatan lingkungan akan dapat mengakibatkan :
1. Tempat berkembang dan sarang dari serangga dan tikus

2. Menjadi sumber polusi dan pencemaran tanah, air dan udara

3. Menjadi sumber dan tempat hidup kuman-kuman yang membahayakan kesehatan.

::Tata cara Pemusnahan sampah

Beberapa cara pemusnahan sampah yang dapat dilakukan secara sederhana sebagai berikut :

a. Penumpukan.
Dengan metode ini, sebenarnya sampah tidak dimusnahkan secara langsung, namun dibiarkan membusuk menjadi bahan organik. Metode penumpukan bersifat murah, sederhana, tetapi menimbulkan resiko karena berjnagkitnya penyakit menular, menyebabkan pencemaran, terutama bau, kotoran dan sumber penyakit dana badan-badan air.

b. Pengkomposan. Cara pengkomposan meerupakan cara sederhana dan dapat menghasilkan pupuk yang mempunyai nilai ekonomi.

c. Pembakaran. Metode ini dapat dilakuakn hanya untuk sampah yang dapat dibakar habis. Harus diusahakan jauh dari pemukiman untuk menhindari pencemarn asap, bau dan kebakaran.

d. “Sanitary Landfill”. Metode ini hampir sama dengan pemupukan, tetapi cekungan yang telah penuh terisi sampah ditutupi tanah, namun cara ini memerlukan areal khusus yang sangat luas.

::Pemanfaatan Sampah::

1. Sampah basah : Kompos dan makanan ternak
2. Sampah kering : Dipakai kembali dan daur ulang
3. Sampah kertas : Daur Ulang

::Daur ulang
Daur ulang adalah salah satu strategi pengelolaan sampah padat yang terdiri atas kegiatan pemilahan, pengumpulan , pemrosesan, pendistribusian dan pembuatan produk/material bekas pakai.

    1. Material yang dapat didaur ulang :
      1. Botol Bekas wadah kecap, saos, sirup, creamer dll baik yang putih bening maupun yang berwarna terutama gelas atau kaca yang tebal.
      2. Kertas, terutama kertas bekas di kantor, koran, majalah, kardus kecualai kertas yang berlapis minyak.
      3. Aluminium bekas wadah minuman ringan, bekas kemasan kue dll.
      4. Besi bekas rangka meja, besi rangka beton dll
      5. Plastik bekas wadah shampoo, air mineral, jerigen, ember dll
      6. Sampah basah dapat diolah menjadi kompos.

      Manfaat pengelolaan sampah
      1. Mengehemat sumber daya alam
      2. Mengehemat Energi
      3. Menguranagi uang belanja
      4. Menghemat lahan TPA
      5. Lingkungan asri (bersih,sehat,nyaman)

TEKNOLOGI SEDERHANA UBAH SAMPAH JADI BERMANFAAT

Posted in sampah on Maret 12, 2008 by kopral cepot
Sampah tidak selamanya jadi masalah. Sebab jika ditangani dengan baik, limbah buangan ini bisa bermanfaat. Bahkan, dengan teknologi yang sederhana sekalipun, sampah bisa dijadikan sebagai sumber penghasilan tambahan. Setidaknya pesan itulah yang disampaikan oleh para pembicara dalam seminar bertema Memasyarakatkan Teknologi Daur Ulang Sampah Skala Rumah Tangga yang diselenggarakan Dharma Wanita di Kementerian Negara Riset dan Teknologi (Ristek) dan tujuh lembaga pemerintah non departemen (LPND) di bawahnya di Jakarta, Kamis (01/9). Hadir sebagai pembicara dalam seminar itu adalah Direktur Pusat Pengkajian dan Penerapan Teknologi Lingkungan (P3TL) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Tusy A Adibroto, pakar pengolahan limbah sampah Harini Bambang Wahono dan aktivis Gerakan Peduli Lingkungan (GPL) Pekayon, Bekasi, Lala Ghazali. Dalam sambutannya, istri Menteri Negara Riset dan Teknologi (Ristek) Sri Kusmayanto Kadiman mengatakan, saat ini penanganan sampah tidak bisa diserahkan sepenuhnya pada pemerintah dan kemampuan teknologi. Karena itu masyarakat harus membangun budaya mendaur ulang sendiri sampah-sampahnya yang ada di rumah tangga. Melalui upaya ini, beban pengolahan sampah, mulai dari tempat penampungan sementara hingga penampungan akhir bisa dikurangi. “Apalagi, pengolahan sampah juga dapat dilakukan dengan menggunakan teknologi sederhana, tapi tetap berdampak positif, baik bagi kesehatan maupun untuk meningkatkan ekonomi keluarga,” ucap dia. Sementara itu Harini mengutarakan, mengolah sampah butuh tiga prinsip utama, yaitu mengurangi (reduce), memakai kembali (reuse) dan mendaur ulang (recycle).
Mengurangi, artinya masyarakat (terutama ibu-ibu) harus mulai membiasakan diri untuk mengurangi pemakaian kantong plastik saat berbelanja di pasar atau tempat lain. Memakai kembali adalah tidak membuang kantong plastik atau botol-botol air mineral dan lainnya yang termasuk sampah anorganik (tidak mudah terurai), tapi memanfaatkannya kembali.
“Karena dari sampah yang terdapat di perkotaan, hampir 30%nya adalah sampah anorganik. Sehingga jika ibu-ibu dengan penuh kesadaran untuk tetap menggunakan kembali kantong-kantong plastik atau botol-botol itu, saya yakin limbah sampai akan terkurangi,” imbuh dia. Ini artinya, mengurangi jumlah limbah anorganik tidak membutuhkan teknologi apapun. Cukup dengan kesadaran untuk selalu membawa kantong plastik yang dimilikinya saat berbelanja ke pasar atau tempat lain. Sementara itu botol-botol air mineral atau lainnya, dapat dimanfaatkan menjadi pot bunga atau tanaman lain. Sementara itu salah satu cara mengolah kembali adalah memanfaatkan sampah organik menjadi pupuk kompos, sedang yang non-organik dapat dimanfaatkan dan diolah menjadi aneka kerajinan tangan. Untuk membuat
kompos dari sayur atau makanan lain tidak membutuhkan teknologi tinggi. Pasalnya, sampah cukup dipendam di tanah dan dilapisi pupuk kandang. Dalam waktu 1,5 bulan kompos sudah jadi. Bahkan untuk mengolah sampah berupa rumput atau daun-daunan menjadi kompos cukup dilakukan dengan memasukannya dalam karung. Selanjutnya karung ditutup
rapat dan perciki dengan air. Untuk menjaga kelembabannya perlu diberi beberapa lubang pada bagian dasar karung.
Sampah Adalah Sumber Daya Sementara itu, Tusy Adibroto mengatakan, dalam rangka memanfaatkan sampah sebagai sumber daya, masyarakat harus lebih dulu bersikap perduli terhadap sampah di rumah masing-masing. Perduli
dalam pengertian Tusy adalah berupaya untuk mengurangi, memakai ulang dan mendaur ulang sampah. Untuk mengurangi sampah, menurut dia, sebelum belanja, ibu-ibu harus mulai berpikir apakah produk yang akan dibeli benarbenar dibutuhkan, mencari produk yang material pembungkusnya sederhana dan membeli yang wadahnya bisa diisi
ulang. Ibu-ibu juga harus menghindari pembelian barang yang sifatnya sekali pakai dan usahakan untuk selalu membawa tas belanja sendiri. Lebih lanjut dia mengatakan, pada dasarnya manfaat pengolahan sampah di rumah dapat dilihat dari berbagai aspek. Secara umum, pengolahan sampah tersebut dapat mereduksi jumlah sampah, mengurangi biaya transportasi, memperpanjang umur tempat pembuangan akhir (TPA), mencegah pencemaran leachate dan
mencegah produksi gas rumah kaca. Secara ekonomis, manfaat pengolahan sampah dapat memberikan penghasilan tambahan dari penjualan produk daur ulang dan kompos. Dan yang tak kalah pentingnya adalah mampu membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat, terutama jika skala pengolahan sampah tersebut sudah lebih besar. Atau minimal, dengan kompos buatan sendiri, kita dapat merasakan dan menikmati lingkungan yang hijau dan asri, baik di rumah maupun di lingkungan sekitar tempat tinggal.

Sumber : Investor Daily (5/9/05)

Berteman dengan Sampah Kota

Posted in sampah on Maret 12, 2008 by kopral cepot

LEUVEN adalah kota kecil di Belgia. Kota yang luasnya 56,63 kilometer persegi itu dihuni 89.910 jiwa dengan tingkat kepadatan penduduk 1,587 jiwa per km persegi.

Sekalipun penduduknya sedikit, namun kota ini selalu ramai dengan berbagai aktivitas. Itu karena Leuven merupakan kota pendidikan dengan adanya Katholieke Universiteit Leuven (KUL), salah satu perguruan tinggi tua di dunia.

Leuven seperti juga kota-kota lainnya di Eropa, selalu mengutamakan kebersihan dan keindahan kota. Seramai apapun kegiatan yang sedang berlangsung di kota itu, tidak tampak sampah berceceran. Tong-tong sampah mudah ditemukan di pinggir-pinggir jalan dan semua orang punya kepedulian yang tinggi untuk tidak membuang sampah sembarangan.

Sebagai kota pendidikan, banyak mahasiswa asing yang bersekolah di KUL. Mereka datang dari berbagai penjuru dunia dengan membawa serta budaya dan kebiasaannya, termasuk pula dalam memperlakukan sampah. Tentu tidak mudah mengubah kebiasaan warga pendatang dalam memperlakukan sampah. Mahasiswa Indonesia, misalnya, harus “belajar” dahulu bagaimana memperlakukan sampah yang mereka hasilkan agar sesuai dengan kebiasaan penanganan sampah di Leuven.

Penanganan sampah kota di kota Leuven dan juga kota-kota lainnya di Eropa dilakukan secara terpadu dengan menggunakan prinsip community development. Warga kota sejak awal dilibatkan secara aktif dalam memilah dan memilih sampah. Proses pengolahan diserahkan kepada swasta dengan dukungan penuh dari pemerintah kota.

Peran serta warga kota dimulai dari dalam rumah. Warga kota, orang tua, anak-anak, laki-laki-perempuan, kaya-miskin, semua memiliki kewajiban yang sama dalam memperlakukan sampah.

Sampah yang dihasilkan warga kota dibagi dalam tiga kategori yaitu sampah yang bisa dikomposkan, sampah yang tidak bisa dikomposkan, dan sampah daur ulang dengan proses khusus. Kategorisasi lain, sampah dibagi dalam sampah basah yang bisa dikomposkan dan sampah kering yang tidak bisa dikomposkan.

Pemerintah kota menyediakan kantung plastik sampah hasil daur ulang untuk jenis sampah yang berbeda. Kantung plastik berukuran kira-kira 100 x 60 cm itu, dijual bebas di supermarket, sehingga masyarakat mudah mendapatkannya.

Ada tiga jenis kantung plastik sampah yang dijual. Kantung plastik warna hijau untuk sampah organik sisa dapur, seperti sisa sayuran, kulit buah, cangkang telur, sisa nasi, dll. Kantung plastik warna biru untuk sampah kering jenis kertas, dus bekas susu, kaleng, dan botol plastik. Kalau malas memilah kedua jenis sampah itu, pemerintah menyediakan kantung plastik warna cokelat. Namun, sebagai kompensasinya, harga kantung plastik cokelat dua kali lipat dari harga kantung plastik biru dan hijau.

Jenis sampah lain yang perlu didaur ulang, seperti botol kaca, pakaian bekas, peralatan elektronik tua atau rusak, batu baterai, dan sofa-sofa butut, juga ditangani swasta. Untuk botol kaca bekas pakai atau gelas/piring yang rusak disediakan kontainer khusus dari metal (bentuknya mirip blek kerupuk raksasa) yang disimpan di tempat-tempat tertentu. Masyarakat tinggal membawa botol atau gelas-gelas tersebut ke tempat khusus (biasanya di pinggir jalan) dan memasukkannya ke dalam kontainer tersebut. Sedangkan untuk membuang sofa dan peralatan elektronik, warga harus daftar dan membayar biaya “buang sampah” di instansi khusus yang menangani masalah tersebut.

Para pedagang di pasar Jumat (pasar tradisional yang ada setiap hari Jumat) juga wajib “membereskan” sampahnya sendiri dengan memasukkannya ke dalam kantung-kantung plastik khusus, sesuai jenisnya. Alhasil, begitu pasar bubar pada tengah hari, tak ada ceceran sampah yang tertinggal, karena petugas kebersihan langsung mengangkut kantung sampah tersebut.

Sampah-sampah yang sudah terpilah diangkut pada hari-hari tertentu. Biasanya, untuk sampah rumah tangga, kendaraan pengangkut sampah (dump truck) datang pagi-pagi. Tak ada ceceran air lindi yang keluar dari kantung plastik itu dan, tentu saja, baunya pun tidak begitu menyengat sehingga pejalan kaki tak terlalu terganggu dengan aktivitas pengangkutan sampah tersebut.

Di negara maju, masyarakat harus bertanggung jawab atas sampah yang dihasilkannya. Memang tidak ada biaya iuran sampah setiap bulan seperti di Indonesia. Retribusi dibebankan pada pembelian kantung plastik sampah. Jika mereka terlalu banyak menghasilkan sampah, tentunya mereka akan semakin sering membeli kantung plastik sampah. Cara ini cukup adil karena biaya dikeluarkan sesuai pemakaian dan tidak pukul rata seperti di Indonesia.

Warga kota juga menjadi lebih rasional dalam membeli barang atau makanan. Jika membeli sepatu baru di toko sepatu, adakalanya pembeli meninggalkan sepatu lamanya di toko itu. Selain itu, barang-barang tua yang masih bisa dimanfaatkan seperti baju, mantel, jaket bekas atau peralatan rumah tangga yang bekas pakai atau sudah out of date, dijual di toko-toko khusus.

Dengan sistem penanganan sampah terpadu seperti itu, Leuven menjadi kota bebas sampah. Sepanjang tahun, kota itu selalu dihiasi aneka macam bunga. Itu semua berkat kompos yang dihasilkan dari proses pengolahan sampah kota. Dinas pertamanan dan warga kota memanfaatkan kompos hasil pengolahan sampah kota untuk menyuburkan tanah dan menumbuhkan aneka macam tanaman.

Pengelolaan sampah kota terpadu ini juga memunculkan kreativitas lain. Selain memacu industri pertanian (dengan dihasilkannya aneka jenis bunga sesuai musimnya), dari daur ulang kertas dan dus dihasilkan berbagai macam kertas pembungkus kado dengan desain yang indah.

Bagi warga kota Leuven, sampah tidak lagi menjadi musuh yang menakutkan dan menjadi sumber penyakit, tetapi menjadi teman yang bermanfaat. Keberhasilan kota ini menjadi kota yang bersih dan indah, tidak terlepas dari peran serta aktif masyarakat dalam menangani sampah.

Sikap positif warga Leuven dalam memperlakukan sampah kota, bukanlah soal budaya atau kultur, tetapi lebih pada soal kebiasaan atau pembiasaan. Warga Bandung pun bisa mengubah kebiasaan buruknya dalam memperlakukan sampah. Paling tidak, mulai membiasakan untuk memilah sampah basah dan sampah kering.

Satu hal yang paling penting adalah kesadaran warga kota bahwa sampah bukan hanya persoalan wali kota atau dinas/perusahaan daerah kebersihan. Dalam kondisi darurat seperti sekarang ini, warga kota sebaiknya bahu membahu menangani sampah dan tidak melulu menyalahkan pemerintah kota. (Sumber : Ida Farida/”PR”)***

  • Ayo Isi Internet dengan Bahasa Indonesia
  •  

    November 2009
    S S R K J S M
    « Feb    
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    23242526272829
    30  
  • siapapun yang menginginkan tulisan yang ada di sini silakan Copy paste ajach, ngak perlu ijin dulu. terima kasih pula kepada penulis yang telah aku copy paste dari penjuru dunia untuk kami tayangkan lagi dan untuk kebutuhan kami sendiri, semoga bermanfaat bagi kita semua
  • Tag

    ahli bijak bisnis bisnis oncom cepot Cireng dagang dongeng esai harapan ide pikiran inspirasi inspiratif Jadi Orang Jelema Leutik kaolahan oncom kiprah Kiprah Jelema Leutik kisah sukses masa sulit Mengenal Oncom Mentereng menu oncom mimpi miskin olahan oncom olah singkong oncom oncom bergizi oncom ceuk urang sunda oncom unik pemimpin besar pengusaha sukses resep oncom serba oncom solusi sulit spirit sukses teladan tokoh tokoh inspiratif tukang oncom unik warung nasi oncom warung oncom
  • RSS Jelema Leutik

  • Kategori